Di SMA yang penuh reputasi dan gengsi, nama Alaska selalu disebut dengan nada hormat. Ia adalah ketua geng Batalyon dan jagoan sekolah yang disegani siswa serta disayang guru. Latar keluarga yang harmonis dan mapan membentuknya menjadi sosok tegas, berani, namun dingin seperti es batu. Di sekolahnya, hampir tak ada satu pun yang mampu menyeret Alaska masuk ke wilayah bernama cinta. Berbanding terbalik dengannya, ada Alana, cewek barbar yang namanya melegenda karena segudang masalah. Cuek, berani, dan tak peduli penilaian orang, Alana justru dengan terang-terangan berani mendekati Alaska. Ia gigih, konsisten, namun tetap santai menghadapi sikap dingin Alaska. Yang tidak Alana ketahui, sejak pertemuan pertama, Alaska sebenarnya telah menaruh rasa. Namun gengsi dan kemampuannya menyembunyikan perasaan membuat Alaska memilih diam. Sikap dingin itu justru memicu Alana semakin berani mendekat, sementara di sisi lain, Alaska semakin penasaran, semakin peduli, dan tanpa sadar semakin jatuh hati. Hubungan mereka berkembang tanpa drama berlebihan. Tidak dipenuhi konflik rumit, melainkan permainan perasaan, dan tarik-ulur yang manis. Alana menyadari perhatian Alaska yang tersembunyi, tetapi memilih tidak menuntut apa pun. Dari sanalah kisah mereka berjalan ringan, hangat, dan perlahan menuju kebahagiaan. Tak hanya berfokus pada romansa Alaska dan Alana, novel ini juga diperkaya dengan dinamika pertemanan khas remaja, berbagai latar belakang sahabat-sahabatnya, serta adegan pendukung yang membuat cerita terasa nyata. Setiap karakter hadir dengan peran yang mampu menguatkan Alaska dan Alana sebagai tokoh utama yang utuh dan kuat. Sebuah kisah cinta remaja tentang harga diri, keberanian mencintai, dan perasaan yang akhirnya menemukan jalannya, dengan akhir yang hangat dan membahagiakan. “Alana! Lo tau, kan, apa yang bakal gue bilang kalau lo mulai membangkang?” Alana memutar bola matanya malas. “Alana! Kalau dikasih tau tuh denger-dengeran,” ujar Alana dengan membuat nada dibuat-buat.